Mengenali Sebab Anak “Mogok Sekolah”

Mengenali Sebab Anak “Mogok Sekolah”

Mengenali Sebab Anak “Mogok Sekolah” Pohon Kata Kita

Diilustrasikan, seorang anak bernama AA. Ia merupakan anak pertama yang mulai disekolahkan oleh ibunya semenjak usia 3 tahun namun bila tidak mau akan dicubit dan diancam. Sewaktu play group, ia tidak mau ditinggal. Ibunya harus menunggui dan ikut mengajari dikelas. Saat bertingkah, AA suka memukul temannya sehingga membuat si Ibu kembali emosi dan mengancam tidak akan menunggui. Ternyata perilaku AA tidak berubah, sehingga membuat ibunya mencubit, dan ia malah berulah lain seperti mencoret buku temannya dan minta dipangku terus selama dikelas. Memasuki umur 6 tahun saat masuk kelas 1 SD, AA tidak mau menulis sama sekali, tidak mau mengikuti pelajaran dan tidak mau sekolah. Menurut si ibu, AA ini membuatnya stres karena karakternya yang sangat keras, dengan adiknya tidak pernah akur.

Nah, sekarang coba kita rasakan, di usia kita yang sudah dewasa ini, bukankah setiap memasuki lingkungan yang baru kita memerlukan sebuah proses adaptasi? Sederhananya, itulah yang dirasakan anak-anak. Saat awal bersekolah, sikap anak yang tidak ingin ditinggal oleh orang terdekatnya, sangat wajar terjadi.

Lantas, apa yang membuat sebagian anak bersikeras tidak mau sekolah bahkan sampai bertingkah dengan memukul temannya seperti persoalan AA?

Kita mungkin tidak asing dengan istilah fase usia golden age.  Pada fase ini, perkembangan kognitif, emosi, dan sosial anak masih belum optimal, sehingga keberhasilan tumbuh kembang anak sangat bergantung pada peran figur terdekatnya. Keluarga sering di ibaratkan sebagai mesin yang memiliki komponen terkait. Apa yang terjadi pada AA sebetulnya juga berkaitan dengan relasi yang terjalin antara ia dan orang terdekatnya.

Saat AA berusia 3 tahun bila tak mau sekolah, si Ibu merespon emosional dengan mengancam dan mencubit. Nah respon itulah yang dipelajari oleh AA. Sulit baginya untuk belajar beradaptasi di lingkungan baru yang fitrahnya terasa asing dan tidak enak, AA yang terus-terusan merasa tidak nyaman kemudian mengembangkan strategi yakni tidak mau mengikuti pelajaran disekolah.

Sebenarnya perilaku negatif yang dimunculkan AA diusianya yang masih 6 tahun masih bersifat plastis, sangat mungkin diubah. Kuncinya berada pada peran serta ibu atau orang terdekatnya. Perlu diingat bahwa komunikasi yang membangun dengan anak memiliki peran positif bagi perkembangan emosi anak. Nah perilaku mengancam hingga mencubit anak karena “tidak patuh” sebetulnya merupakan suatu paksaan bagi anak untuk mengikuti mau orangtua. Saat anak sedang tidak nyaman berada dilingkungan yang baru, secara bersamaan ia dipaksa untuk patuh dan mengabaikan begitu saja rasa tidak nyamannya.

Emosi kedalam Vs. keluar

Rasa tidak nyaman anak tersebut perlu disalurkan, ada yang cara menyalurkannya kedalam, adapula yang keluar. Menurut psikolog anak, Toge Aprilianto, anak-anak yang menyalurkan emosi kedalam biasanya tidak ingin mengekspresikan emosinya secara langsung atau diketahui orang lain.

Sebaliknya, anak-anak yang menyalurkan emosinya keluar, tidak masalah bila diketahui orang lain. Nah anak-anak perlu belajar menyalurkan emosinya dengan aman. Kalau tidak, bukan tidak mungkin mereka dapat menyakiti dirinya sendiri bahkan orang-orang di sekitarnya.

Lantas apa yang perlu dilakukan untuk menghindari situasi mogok sekolah?

Nah, untuk mengatasinya, orangtua bisa meneladani nikmatnya bersekolah, jauh-jauh hari sebelum waktunya bersekolah. Anak-anak tidak mau bersekolah karena tidak suka, artinya ia memaknai jika bersekolah itu tidak menyenangkan. Bila orangtua bersepakat untuk menyekolahkan anak, maka  orangtua perlu berupaya untuk membuat anak mau bersekolah. Saya percaya jika kita mau terus belajar, maka menjadi orangtua akan memberikan kita berkah belajar yang luar biasa. Bukankah begitu?