3 Strategi Kelola Tantrum Anak

3 Strategi Kelola Tantrum Anak

Halo sahabat pohon kata kita. Bagaimana kabarnya? Semoga baik-baik saja ya. Tahun 2020 ini rupanya memang menjadi tahun yang penuh adaptasi lantaran virus covid-19 belum kunjung hilang. Tetap jaga kesehatan dengan jaga jarak, pakai masker, dan rajin cuci tangan ya!

Kali ini kita akan mengupas salah satu perilaku yang khas dan pasti dialami oleh anak usia dini, yaitu temper tantrum atau yang lebih akrab disebut tantrum. Nah dalam menjalani kesehariannya, anak akan mengalami berbagai macam hal baru dan berbagai macam rasa baik yang enak maupun tidak enak.

Salah satunya, anak mulai mulai berkenalan dan belajar menghadapi rasa kecewa saat apa yang diinginkan tidak dapat terpenuhi. Rasa kecewa, marah, dan sedih merupakan perasaan yang wajar dan alami. Namun seringkali, tanpa disadari orangtua bisa saja menanggapi hal tersebut dengan cara yang tidak tepat. Misalnya saat anak menangis karena permintaannya tidak dipenuhi, orangtua memarahi anak agar tangisan anak berhenti. Sayangnya cara ini membuat emosi anak tidak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus akan muncul tumpukan emosi. Tumpukan emosi inilah yang nantinya dapat meledak dan muncul sebagai tantrum.

Anak biasanya cenderung lebih emosional daripada orang dewasa karena belum bisa mengendalikan emosinya. Ledakan tantrum ini lebih sering muncul saat usia 2-4 tahun. Sikap yang ditunjukkan untuk menampilkan rasa tidak senangnya, ditunjukkan dari adanya tindakan yang berlebihan, seperti menangis, menjerit-jerit, melemparkan benda, berguling-guling, memukul ibunya atau aktivitas besar lainnya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tantrum terjadi sekurang-kurangnya sekali dalam seminggu pada 50-80% anak pra sekolah. Diperkirakan tiga perempat dari seluruh perilaku tantrum terjadi di rumah dan sering terjadi di tempat-tempat umum yang menjamin anak mendapat perhatian penuh dengan membuat orangtua merasa malu.

Saat anak mengalami tantrum, banyak orangtua beranggapan bahwa hal tersebut bersifat negatif.  Dengan asumsi tersebut orangtua justru melewatkan kesempatan yang berharga untuk membantu anak menghadapi emosi yang normal (marah, frustasi, takut, jengkel) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga anak tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.

3 Strategi Kelola Tantrum Anak Pohon Kata Kita

3 Strategi Mengelola Tantrum Anak

  1. Tantrum umumnya terjadi karena kurangnya kemampuan anak berkomunikasi verbal

Pahami jika tantrum terjadi karena kurangnya kemampuan anak dalam mengkomunikasikan kebutuhannya secara verbal, melainkan lebih mudah untuk diekspresikan secara fisik menggunakan tubuhnya (menangis, menjerit, berguling, dan lainnya). Dari generasi ke generasi, tantrum dipandang secara negatif. Tantrum dianggap sebagai upaya manipulasi yang dilakukan anak untuk mendapatkan yang diinginkan, sehingga banyak ahli dulunya menganggap akan lebih baik untuk mengabaikan anak. Pandangan tradisional tersebut memberikan saran agar orangtua sebaiknya meninggalkan anak yang sedang tantrum, jika orangtua ikut mengintervensi dianggap tantrum justru akan semakin menjadi-jadi.

Emosi Vs Strategi

Nah, sahabat pohon kata kita.. coba amati saat anak tantrum, sebetulnya saat itu ia sedang mengekspresikan emosinya saja atau tantrum memang dijadikan sebagai strategi untuk mendapat apa yang dimau. Mungkin kita pernah mendapati orangtua yang kesal karena tantrum anaknya dianggap sebagai “akting saja”, misalnya saat anak menangis namun tidak keluar air mata. Nah coba bedakan, apakah tantrum itu strategi atau emosi.

Jika strategi, maka sebagai fasilitas belajar bagi anak, coba gali terlebih dahulu apakah yang diinginkan anak itu aman untuk dipenuhi. Misalkan anak ingin mainan baru padahal mainan tersebut tidak jauh berbeda dengan miliknya yang ada dirumah. Orangtua pun ingin mengajarkan anak untuk memilih mainan yang memang diperlukan anak, untuk meminimalisir mainan yang nganggur dan bertumpuk. Nah saat itu, bila anak tantrum, orangtua bisa mengabaikan perilaku tantrum sebagai wujud strategi. Meski mengabaikan bukan berarti kita bisa meninggalkan anak begitu saja. Temani anak tanpa perlu menuruti keinginannya. Inilah saat yang tepat untuk mengajarkan anak tentang rasa kecewa bahwa tidak semua yang diinginkan dapat terwujud. Hal lumrah yang pasti akan dialami di lain waktu saat anak tumbuh dewasa.

Berbeda bila tantrum sebagai wujud emosi anak. Anak yang mengalami tantrum dengan dipenuhi emosi yang kuat,  seringkali merasa tidak berdaya dan sendirian. Sulit bagi mereka untuk menenangkan dirinya sendiri. Saat itulah sebagai orangtua kita bisa memberi stimulus fisik yang mengisyarakatkan rasa aman dan nyaman dengan memberi pelukan untuk membantu anak untuk keluar dari rasa frustasinya. Hal ini penting, karena di usia dini anak sedang membangun kepercayaan pada figur orangtua. Sebagai orangtua, kita bisa berlatih untuk tetap tenang, dan fokus pada napas (mindfulness) untuk mengurangi reaktifitas sehingga tantrum dapat lebih cepat diatasi.

 

  1. Ajarkan anak batas-batas yang bisa ditoleransi saat sedang mengekspresikan dirinya

“Nggak ada pukul ya nak. Tidak ada yang saling melukai di keluarga kita..”

Saat anak tantrum dengan wujud perilaku yang merugikan dan menyakiti diri sendiri bahkan orang-orang sekitarnya seperti halnya memukul, artinya orangtua perlu segera mengamankan anak atau siapapun yang bisa dilukai anak sembari memberi tahu mereka secara verbal bahwa ada perilaku-perilaku yang sebaiknya tidak dilakukan. Anak mungkin tidak langsung mengikuti ucapan kita. Namun dengan meneladani sikap orangtua sehari-hari yang mendidik anak dengan cinta dan kesabaran, anak akan mulai belajar mengikuti kebiasaan baik yang ditumbuhkan di keluarganya.  Anak akan mendengarkan karena ia pun inginkan penerimaan dan cinta orangtuanya.

 

  1. Akui permintaan anak

Cobalah menggali permintaan anak dan bantu mereka untuk mengungkapkan permintaan tersebut kedalam kata-kata. Misalnya, saat anak usia 2 tahun berteriak karena ingin segera menghabiskan kue brownies,

“Mama tau kamu ingin kue brownies..”

Dengan mengakui permintaan tersebut biasanya rasa protes anak akan berkurang.

“Sekarang waktunya sarapan, mama sudah siapkan. Kalau adek mau brownis boleh tapi adek sarapan dulu ya, biar kenyang dan sehat.”

Sebaiknya anak di biasakan untuk mengonsumsi makanan yang enak menurut tubuhnya bukan lidah. Makanan yang enak menurut tubuh kaya akan nutrisi. Sekarang banyak lho olahan resep sehat yang bisa dikreasikan untuk anak.

 

Untuk mengantisipasi munculnya tantrum, sebaiknya hindari memberi respon dengan berkata, “tidak” pada anak. Penolakan sebenarnya merupakan suatu bentuk paksaan yang justru menyulitkan situasi yang dirasakan anak. Daripada mengatakan, “tidak boleh makan gula” kita bisa menggantinya dengan kalimat, “makan gula terlalu banyak itu kurang baik lho nak untuk kesehatan..”

Mengatasi tantrum dengan ketiga strategi diatas membuat anak merasa jika orangtua sesungguhnya memang peduli pada  rasa kecewa atau situasi sulit yang dialami anak. Mereka juga akan mudah membangun kepercayaan bahwa kita bisa membantu mereka mengatasi rasa kecewa saat hal yang diinginkan tidak terpenuhi dengan cara melepas keinginan tersebut secara aman dan nyaman. Seiring perkembangannya, anak pun akan tumbuh dengan kosakata yang makin banyak untuk mengekspresikan keinginannya. Pengendalian dirinya pun akan semakin baik, sehingga perlahan perilaku tantrum akan semakin menurun dan bahkan hilang.

Nah.. semoga artikel kali ini bermanfaat ya sahabat pohon kata kita. Selamat menerapkan ketiga strategi ini untuk buah hati di rumah.

 

Pustaka :

Hayes, Eileen. (2003). Tantrum. Jakarta : Erlangga.

Hurlock, E. B. (2000). Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga.

Wallace, Meri. (2015). Managing Tantrum. Diambil kembali dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/how-raise-happy-cooperative-child/201506/managing-tantrums

Mengenali Sebab Anak “Mogok Sekolah”

Mengenali Sebab Anak “Mogok Sekolah”

Mengenali Sebab Anak “Mogok Sekolah” Pohon Kata Kita

Diilustrasikan, seorang anak bernama AA. Ia merupakan anak pertama yang mulai disekolahkan oleh ibunya semenjak usia 3 tahun namun bila tidak mau akan dicubit dan diancam. Sewaktu play group, ia tidak mau ditinggal. Ibunya harus menunggui dan ikut mengajari dikelas. Saat bertingkah, AA suka memukul temannya sehingga membuat si Ibu kembali emosi dan mengancam tidak akan menunggui. Ternyata perilaku AA tidak berubah, sehingga membuat ibunya mencubit, dan ia malah berulah lain seperti mencoret buku temannya dan minta dipangku terus selama dikelas. Memasuki umur 6 tahun saat masuk kelas 1 SD, AA tidak mau menulis sama sekali, tidak mau mengikuti pelajaran dan tidak mau sekolah. Menurut si ibu, AA ini membuatnya stres karena karakternya yang sangat keras, dengan adiknya tidak pernah akur.

Nah, sekarang coba kita rasakan, di usia kita yang sudah dewasa ini, bukankah setiap memasuki lingkungan yang baru kita memerlukan sebuah proses adaptasi? Sederhananya, itulah yang dirasakan anak-anak. Saat awal bersekolah, sikap anak yang tidak ingin ditinggal oleh orang terdekatnya, sangat wajar terjadi.

Lantas, apa yang membuat sebagian anak bersikeras tidak mau sekolah bahkan sampai bertingkah dengan memukul temannya seperti persoalan AA?

Kita mungkin tidak asing dengan istilah fase usia golden age.  Pada fase ini, perkembangan kognitif, emosi, dan sosial anak masih belum optimal, sehingga keberhasilan tumbuh kembang anak sangat bergantung pada peran figur terdekatnya. Keluarga sering di ibaratkan sebagai mesin yang memiliki komponen terkait. Apa yang terjadi pada AA sebetulnya juga berkaitan dengan relasi yang terjalin antara ia dan orang terdekatnya.

Saat AA berusia 3 tahun bila tak mau sekolah, si Ibu merespon emosional dengan mengancam dan mencubit. Nah respon itulah yang dipelajari oleh AA. Sulit baginya untuk belajar beradaptasi di lingkungan baru yang fitrahnya terasa asing dan tidak enak, AA yang terus-terusan merasa tidak nyaman kemudian mengembangkan strategi yakni tidak mau mengikuti pelajaran disekolah.

Sebenarnya perilaku negatif yang dimunculkan AA diusianya yang masih 6 tahun masih bersifat plastis, sangat mungkin diubah. Kuncinya berada pada peran serta ibu atau orang terdekatnya. Perlu diingat bahwa komunikasi yang membangun dengan anak memiliki peran positif bagi perkembangan emosi anak. Nah perilaku mengancam hingga mencubit anak karena “tidak patuh” sebetulnya merupakan suatu paksaan bagi anak untuk mengikuti mau orangtua. Saat anak sedang tidak nyaman berada dilingkungan yang baru, secara bersamaan ia dipaksa untuk patuh dan mengabaikan begitu saja rasa tidak nyamannya.

Emosi kedalam Vs. keluar

Rasa tidak nyaman anak tersebut perlu disalurkan, ada yang cara menyalurkannya kedalam, adapula yang keluar. Menurut psikolog anak, Toge Aprilianto, anak-anak yang menyalurkan emosi kedalam biasanya tidak ingin mengekspresikan emosinya secara langsung atau diketahui orang lain.

Sebaliknya, anak-anak yang menyalurkan emosinya keluar, tidak masalah bila diketahui orang lain. Nah anak-anak perlu belajar menyalurkan emosinya dengan aman. Kalau tidak, bukan tidak mungkin mereka dapat menyakiti dirinya sendiri bahkan orang-orang di sekitarnya.

Lantas apa yang perlu dilakukan untuk menghindari situasi mogok sekolah?

Nah, untuk mengatasinya, orangtua bisa meneladani nikmatnya bersekolah, jauh-jauh hari sebelum waktunya bersekolah. Anak-anak tidak mau bersekolah karena tidak suka, artinya ia memaknai jika bersekolah itu tidak menyenangkan. Bila orangtua bersepakat untuk menyekolahkan anak, maka  orangtua perlu berupaya untuk membuat anak mau bersekolah. Saya percaya jika kita mau terus belajar, maka menjadi orangtua akan memberikan kita berkah belajar yang luar biasa. Bukankah begitu?