Atasi Permasalahan Anak yang “Mogok Sekolah”

Atasi Permasalahan Anak yang “Mogok Sekolah”

Duuh.. ini anak susah banget dikasih tau, malah berulah terus disekolah. Di cubit baru tau rasa ya!!” Ujar seorang ibu yang tengah kesal karena anak pertamanya tidak mau mengikuti pelajaran dan tidak mau sekolah.

Atasi Permasalahan Anak yang “Mogok Sekolah” Pohon Kata KitaGambar disadur dari https://www.dreamstime.com/illustration/child-tantrum.html
Sebut saja, sang anak bernama AR. Ia merupakan anak pertama yang mulai disekolahkan oleh ibunya semenjak usia 3 tahun dan bila tidak mau akan dicubit dan diancam. Sewaktu play group, ia tidak mau ditinggal. Ibunya harus menunggui dan ikut mengajari dikelas. Saat bertingkah suka memukul temannya sehingga membuat si Ibu kembali emosi dan mengancam tidak akan menunggui. Ternyata perilaku AR tidak berubah, sehingga membuat ibunya mencubit, dan ia malah berulah lain seperti mencoret buku temannya dan minta dipangku terus selama dikelas. Memasuki umur 6 tahun saat masuk kelas 1 SD, si AR tidak mau menulis sama sekali, tidak mau mengikuti pelajaran dan tidak mau sekolah. Menurut si ibu, AR ini membuatnya stres karena karakternya yang sangat keras, dengan adiknya tidak pernah akur.

Nah, sahabat pohon kata kita.. sebelum membahas persoalan diatas lebih jauh. Coba kita rasakan, di usia kita yang sudah dewasa ini, bukankah setiap memasuki lingkungan yang baru kita memerlukan sebuah proses adaptasi? Sederhananya, itulah yang dirasakan anak-anak. Saat awal bersekolah, sikap anak yang tidak ingin ditinggal oleh orang terdekatnya, sangat wajar terjadi. Lantas, apa yang membuat sebagian anak bersikeras tidak mau sekolah bahkan sampai bertingkah dengan memukul temannya seperti persoalan AR?

Kita mungkin tidak asing dengan istilah usia golden age. Fase usia dimana perkembangan kognitif, emosi, dan sosial anak masih belum optimal, sehingga keberhasilan tumbuh kembang anak sangat bergantung pada peran figur terdekatnya, dalam persoalan diatas misalnya ibu AR.

Secara psikologi, keluarga di ibaratkan sebagai mesin yang memiliki komponen terkait. Apa yang terjadi pada AR berkaitan dengan relasi yang terjalin antara ia dan ibunya. Saat AR berusia 3 tahun bila tak mau sekolah, si Ibu merespon  emosional dengan mengancam dan mencubit. Nah respon itulah yang dipelajari oleh AR. Alih-alih belajar beradaptasi dengan lingkungan baru yang fitrahnya terasa asing dan tidak enak, AR terus-terusan merasa tidak nyaman hingga mengembangkan strategi lain seperti tidak mau mengikuti pelajaran disekolah.

Bunda, mendidik anak memang bukan perkara mudah. Terlebih bila diri kita sendiri masih memiliki banyak kekurangan. Namun kita juga tidak dituntut untuk sempurna, hanya perlu terus belajar sambil menemani dan menjadi fasilitas belajar yang baik untuk anak. Perilaku negatif yang dimunculkan AR diusianya yang masih 6 tahun masih bersifat plastis, sangat mungkin diubah. Kuncinya berada pada peran serta ibu atau orang terdekat anak.

Perlu disadari bahwa komunikasi yang membangun dengan anak memiliki peran positif bagi perkembangan emosi anak. Nah perilaku mengancam hingga mencubit anak karena “tidak patuh” sebetulnya merupakan suatu paksaan bagi anak untuk mengikuti mau orangtua. Saat anak sedang tidak nyaman berada dilingkungan yang baru, secara bersamaan ia dipaksa untuk patuh dan mengabaikan begitu saja rasa tidak nyamannya. Bisa bayangkan beban anak datang tak hanya dari lingkungan baru namun juga dari lingkungan keluarganya?

Nah sebetulnya rasa tidak nyaman anak tersebut perlu disalurkan, ada yang cara menyalurkannya kedalam, adapula yang keluar. Menurut psikolog anak, Toge Aprilianto, anak-anak yang menyalurkan emosi kedalam biasanya tidak ingin mengekspresikan emosinya secara langsung hingga diketahui orang lain. Sebaliknya, anak-anak yang menyalurkan emosinya keluar, tidak masalah bila diketahui orang lain. Nah namanya anak-anak, ia perlu belajar menyalurkan emosinya dengan aman. Kalau tidak, bukan tidak mungkin dapat menyakiti dirinya sendiri bahkan orang-orang di sekitar anak, seperti yang dilakukan oleh AR.

Respon ibu AR yang mengancam dan mencubit juga sebetulnya lahir karena ia merasa tidak nyaman dengan perilaku anak. Perasaan tidak nyaman tersebut yang notabenenya sebagai bentuk emosi sayangnya juga disalurkan secara tidak aman kepada anak. Jadi bunda.. bila kita merasa tidak suka dengan perilaku anak, terutama bila mereka masih sangat dini untuk dimintai pertanggungjawaban. Bagaimana bila sejenak kita koreksi kedalam diri kita terlebih dahulu? Karena orangtua merupakan figur teladan bagi anak.

Lantas apa yang perlu dilakukan untuk menghindari situasi anak mogok sekolah?

Bunda bisa meneladani nikmatnya bersekolah. Anak-anak tidak mau bersekolah karena tidak suka, artinya ia memaknai jika bersekolah itu tidak menyenangkan. Bila orangtua bersepakat untuk menyekolahkan anak, maka bunda perlu berupaya untuk membuat anak mau bersekolah. Misalnya, dengan mempersiapkan jauh-jauh hari secara kreatif, cerita menarik yang bisa diperoleh saat bersekolah.

Tentunya meskipun kita sudah berupaya, pun tak ada jaminan berhasil. Resiko gagal membuat anak mau bersekolah pun tentu ada. Wah, lalu bagaimana? Nah karena itu persoalan yang lain, nanti kita bahas kembali ya dalam sesi artikel bagian kedua, bila anak tak mau sekolah meskipun orangtua sudah meneladani anak nikmatnya bersekolah. Semoga ada insight yang berguna ya sahabat pohon kata kita, khususnya para bunda yang sedang mempersiapkan anak bersekolah dengan belajar dari cerita AR dan ibunya.

Saya percaya jika kita terus belajar, maka menjadi orangtua akan memberikan kita berkah belajar yang luar biasa. Sampai jumpa di artikel bagian kedua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *