Resep Sederhana : Bakwan Tempe Udang

Resep Sederhana : Bakwan Tempe Udang

Halo Sahabat PKK!

       Bagi yang sedang bosen sama tempe goreng di rumah, sahabat PKK bisa coba resep Bakwan Tempe Udang ini. Kemarin sempet iseng-iseng coba, gimana kalau tempe dihaluskan, rasanya akan jadi seperti apa? Pas awal, saya pikir akan aneh, tapi ternyata enak markenak. Yang biasanya kalo tempe dibumbuin cuma meresap di luar, bakwan tempe ini justru meresap sampe ke dalem, lho, sahabat PKK…

       Secara tekstur, dia memang cukup berbeda dengan bakwan pada umumnya. Kalo bakwan biasanya kan krenyes di luar, tapi kenyal di dalam karena dia pakai campuran tepung (kalo pas lagi panas sih). Nah, kalo bakwan tempe ini dia lembut-lembut tapi masih ada chunky-nya. Agak susah menjelaskannya, hehe, yang pasti kelembutannya di bawah tahu, tapi juga ga berbiji seperti tempe yang belum dihaluskan. Yah, begitulah yang bisa saya jelaskan sedikit tentang resep kita kali ini.

       Tenang saja, untuk pembuatannya sederhana banget, bumbunya juga ga muluk-muluk. Selain sederhana, kita bisa dapet asupan 2 sumber protein dalam 1 masakan. Mantap ga tuh? Monggo bisa langsung disimak, selamat mencoba!

= Penyajian untuk 4 orang =

Bahan :

  1. 1 papan / bungkus tempe (dipotong dadu kecil-kecil, untuk kemudahan penghalusan)
  2. 2 ½ sdm Tepung terigu / tepung instan crispy
  3. 1 buah telur
  4. 1 sdm air
  5. 1 siung bawang putih (bisa ditambah sesuai selera)
  6. 1,25 ons udang (diutuhkan, bisa dibuang kulit dan kepalanya sesuai selera)
  7. Daun bawang (dipotong-potong kecil)
  8. Lada putih secukupnya
  9. Garam secukupnya (kalo saya sekitar 1¼ sdt, cuman kalo sudah pakai tepung instan sebaiknya jangan terlalu banyak)
  10. Gula secukupnya (idem gula)
  11. Bubuk kaldu jamur secukupnya (untuk ini saya sekitar ½ sdt)  

Cara pembuatan :

1. Masukkan potongan tempe, bawang putih, tepung, telur, air, garam, gula, dan bubuk kaldu jamur ke dalam blender.

Bakwan Tempe Udang

Kalo sahabat PKK ga ada blender, bisa diulek, tapi cukup tempenya saja. Meskipun kemungkinan besar ga akan sehalus ketika diblender, setidaknya nanti bisa bantu menghaluskan. Setelah itu campurkan dengan bahan-bahan lain selain udang.

2. Mulai haluskan adonan, sehingga nanti akan jadi seperti gambar di bawah.

Bakwan Tempe Udang

3. Untuk proses selanjutnya, campurkan adonan dengan daun bawang yang sudah dipotong. Setelah itu, bisa jadi pilihan untuk sahabat PKK. Apakah ingin udangnya langsung dicampur saja ke adonan, atau dipisah, sehingga nanti baru ditambahkan ketika adonan masuk ke penggorengan, supaya lebih cantik hasilnya. Karena saya aliran yang penting bergizi (hehe), jadi saya campur seperti ini.

Bakwan Tempe Udang

4. Barulah mulai kita goreng adonannya di wajan. Sebelum digoreng, kalo ingin memastikan lagi apakah rasanya sudah pas atau belum, biasanya saya coba sedikit adonannya.

Bakwan Tempe Udang

5. Setelah digoreng, jadinya seperti ini, sahabat PKK. Semoga gambarnya masih bisa bikin ngiler meskipun simpel bin simpel ya hehehe…

Bakwan Tempe Udang

       Nah, itu tadi proses pembuatan bakwan tempe udangnya. Gimana, sahabat PKK? Jadi kepingin coba? Ditunggu hasilnya di komen bawah ya.. Salam keluarga cerdas dan sehat!  

Rekomendasi Buku Keluarga : The Danish Way of Parenting

Rekomendasi Buku Keluarga : The Danish Way of Parenting

The Danish Way of Parenting
  • Judul buku : The Danish Way of Parenting
  • Pengarang : Jessica Joelle Alexander & Iben Dissing Sandahl
  • Penerbit : Penerbit B first (PT Bentang Pustaka)
  • Tahun terbit : Desember 2018 (Cetakan Keempat)
  • Tebal buku : 184 halaman
  • Harga buku : 47.000 – 70.000 (kisaran harga di offline dan online shop)

       Halo Sahabat PKK! Semoga kabarnya tetep baik ya… Semoga segala tantangan hidup bisa diatasi dengan kepala jernih dan hati yang ikhlas. Terutama buat para ayah dan bunda yang sekarang berjuang membesarkan anak agar nanti harapannya jadi generasi penerus agama dan bangsa. Atau buat para calon ayah dan bunda yang sekarang lagi hunting ilmu parenting, semoga menemukan apa yang lagi dicari. Aamiin…

       Berbicara ilmu parenting, untuk menemukan yang baik memang tak selalu harus menemukannya secara mandiri. Hidup bisa begitu kompleks sehingga membuat kita gak punya cukup waktu untuk melakukan riset atau penelitian, utamanya tentang mengasuh anak. Dengan alasan itu, kita seringkali berupaya meniru cara-cara yang sudah diwariskan secara turun temurun dan menganggapnya sebagai satu-satunya solusi.

       Namun, bener ga ya sudah cukup? Bagaimana jika apa yang kita terapkan secara alamiah, meniru tanpa memilah, justru membawa bencana untuk anak-anak di masa mendatang? Ada baiknya kita sebagai orang tua yang cerdas perlu meluangkan waktu untuk membuka diri, menemukan cara pengasuhan yang ga sekedar dilakukan atas dasar ‘keyakinan’, melainkan karena memang itu terbukti memberikan kemaslahatan untuk perkembangan anak.

       Contohnya dengan belajar dari negara-negara maju, apalagi jika negara itu termasuk dalam negara paling bahagia di dunia. Salah satunya adalah negara Denmark, dan ada satu buku yang membahas dalam tentang bagaimana pengasuhan anak mereka berpengaruh besar terhadap kebahagiaan masyarakatnya.

       Saya masih inget gimana bisa ketemu dengan buku yang menurut saya sangat “hidden gem” ini. Tapi mungkin sekarang sudah dikenal banyak orang sih (hehe). Dulu jaman-jaman ketika saya masih menunggu wisuda, kebetulan ada event dekat rumah yang menawarkan buku-buku diskon hingga 50%. Kalau ga salah namanya Out of the Boox, penyelenggaranya adalah JP Books. Dengan saya yang masih ‘mahasiswa’, tentu event-event seperti ini buat saya ngiler, siapa tahu dapet ilmu-ilmu baru dengan harga yang sangat murah. Saat keliling-keliling cari buku bagus, saya kemudian tertarik dengan cover sebuah buku yang kelihatan estetik dan simetris. Selain itu ada kata ‘parenting’ yang cukup besar, membuat minat saya akan dunia keluarga cukup tergelitik. Yap, buku itu adalah The Danish Way of Parenting.

Pengasuhan Gaya Denmark vs Amerika

        Jika memahami secara keseluruhan dari buku ini, saya jadi teringat sebuah buku yang gagasannya hampir mirip dengan buku yang saya bahas saat ini, berjudul “Berani Tidak Disukai” oleh Ichiro Kishimi & Fumitake Koga. Mereka menggunakan konsep diskusi dua arah untuk menjelaskan konsep pemikiran Adler -seorang psikologis- yang melawan konsep reward dan punishment karena bisa membuat seseorang terlalu bergantung pada penilaian orang lain untuk menilai dirinya berharga. Bersinggungan dengan buku Danish Way of Parenting, mereka juga menolak pujian-pujian yang berlebihan dan ga realistis kepada anak, termasuk juga hukuman verbal dan fisik yang justru dapat mengkerdilkan anak.

       Untuk memperjelas konsep, penulis melakukan perbandingan gaya pengasuhan orang-orang Amerika dan Denmark. Hal ini memang ga lepas dari latar belakang Jessica Joelle yang berasal dari Amerika, sedangkan suaminya dari Denmark. Ada anggapan bahwa dirinya ga punya jiwa keibuan yang baik, seperti yang saya rasakan saat ini (ups). Tapi justru inilah yang menjadi bahan bakar beliau (dan saya) untuk belajar lebih tentang pengasuhan anak. Selama pernikahan, beliau mengamati bagaimana sang suami mampu menjadikan anak-anaknya bahagia, tenang, juga berperilaku baik.

       Hal ini buat beliau bertanya-tanya, apakah cara pengasuhan tersebut lah yang membuat Denmark menjadi salah satu negara paling bahagia di dunia? Padahal Amerika telah menjadi negara adidaya cukup lama, namun ga juga masuk ke dalam peringkat tertinggi atas penghargaan tersebut. Dari situlah kemudian buku ini hadir dari hasil penelitian beliau atas orang-orang Denmark di sekitarnya, termasuk sang suami.

       Dalam buku, beliau memang membandingkan perbedaan cara pengasuhan orang Amerika dan Denmark yang cukup mencolok. Bagaimanapun, bukan berarti setiap orang Denmark selalu menggunakan cara pengasuhan yang baik, begitupun sebaliknya untuk Amerika. Jadi di sini saya bukan untuk merekomendasikan sahabat PKK agar kemudian meninggikan Denmark berlebihan lalu menjatuhkan Amerika lho (hehe). Kita ambil intisarinya aja untuk harapannya bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Kalau bagus secara universal, kenapa nggak?

6 Prinsip dalam P.A.R.E.N.T

        Secara garis besar, penulis menjelaskan 6 prinsip yang dijalani orang tua Denmark saat mengasuh anaknya sedari kecil, yang ternyata jika disingkat menjadi kata PARENT. Keren sih, bisa nemu prinsip yang menggambarkan inti dari pengasuhan anak itu sendiri. Biar ga banyak spoiler, saya cuma akan menjelaskan Intisari dari prinsip-prinsip tersebut. Biar kalau sahabat PKK butuh penjelasan yang lebih detail, baca bukunya langsung akan lebih enak.

  • Play (Bermain)

       Menurut saya, inti dari prinsip ini bahwa permainan ga selalu menjadi hal yang harus dihindari anak, malahan bermain justru adalah wujud dari pembelajaran itu sendiri.

       Prinsip ini mungkin cukup kontroversial ya di Indonesia, mengingat ada orang tua yang berpikiran bahwa bermain hanya buang-buang waktu aja. Ga perlu jauh-jauh ke Amerika, di Indonesia sendiri kadang kita menemukan orang tua yang lebih suka ngelesin anaknya ini itu. Ndaftarkan program apapun yang inginnya bisa untuk bekal anaknya di masa depan. Bahkan ada yang mulai pada umur-umur yang cukup dini Ada juga pemikiran kalau belajarnya ga dimulai sejak dini, perkembangan anak bakal lebih lambat, kalah sama anak-anak lain. Tapi apa bener gitu?

Play_The Danish Way of Parenting
Sumber gambar : Shitota Yuri di Unsplash

       Saya yakin, setiap dari kita sebagai orang tua ingin anak kita bisa sukses, tapi mereka juga berhak untuk bahagia di setiap masa kehidupannya. Salah satu cara untuk mencapai itu adalah dengan memberikan mereka ruang untuk belajar dengan bermain. Dari situ akan ada banyak manfaat yang didapat untuk mereka sembari bersenang-senang dengan teman-teman di sekitarnya.

       Tentu aja permainan yang dilakukan bukan lewat dunia maya, ya sahabat PKK, melainkan permainan-permainan yang membutuhkan interaksi secara langsung. Bisa menggunakan permainan-permainan tradisional yang udah ada sejak lama. Kalau di Indonesia, contoh-contohnya bisa seperti gopak sodor, main bekel, lompat tali, dll. Banyak lah, sahabat PKK pasti sangat mengenal permainan-permainan ini pas kecil.

       Ketika membayangkan pengalaman bermain dulu, saya sendiri merasa bahagia sekali. Saat itu belum ada gadget seperti sekarang, jadi kalau mencari hiburan ya kumpul sama temen-temen sekampung (hehe). Memang kadang ada drama-dramanya, yah namanya juga anak kecil. Tapi di balik itu, sekarang justru saya merasa bersyukur karena dulu diberi kesempatan mendapatkan manfaat bermain secara aktif. Sebagai tambahan, olahraga juga bisa menjadi lahan bermain untuk anak, contohnya sepak bola, basket, bulutangkis, dll.

       Emangnya bermain ini manfaatnya sampai sebesar apa sih? Nah… Sahabat PKK bisa baca lebih detail di buku ini, beserta penjelasan-penjelasan lain yang ga kalah penting.

  • Authentic (Keaslian)

        Sahabat PKK mungkin pernah menemukan orang tua yang memarahi anaknya saat menangis dengan kata, “ga boleh kamu tu nangis!”. Kelihatannya ga ada masalah, tapi ternyata oh ternyata itu bisa mempengaruhi kestabilan emosi anak, lho.

        Kita barangkali menilai anak yang menangis adalah suatu hal yang mengganggu, sedangkan anak yang baik seharusnya selalu tersenyum, ceria, dan ga banyak tingkah. Kalau punya anak yang rewel itu kayak bikin malu banget, apalagi kalau rewelnya di publik. Ini nih pendapat yang perlu dipertimbangkan lagi.

        Gimana-gimana, kita sendiri sebagai manusia pasti pernah merasakan sedih, kecewa, sebal, dan emosi-emosi lain yang bisa dibilang bertolak belakang dengan emosi bahagia, tenang, santai, dll. Di sini saya ga akan mengatakan bahwa sedih itu adalah emosi negatif, begitu pula bahagia, dia ga selalu berefek positif. Kok bisa?

Authentic_The Danish Way of Parenting
Sumber gambar : Arwan Sutanto di Unsplash

       Sahabat PKK pernah dong tahu tentang film yang sebelumnya viral banget. Di film itu diceritain tentang sebab musabab seorang anak laki-laki yang pada akhirnya tumbuh dewasa menjadi seorang penjahat. Yap, dia adalah si Joker.

       Ada yang bilang film ini bisa ngasih pengaruh yang buruk ke para penonton. Yah, terlepas dari itu, ada beberapa hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Salah satunya seperti efek pengasuhan ibu Joker yang mengharuskan anaknya untuk selalu tersenyum, meskipun mengalami hal-hal yang menyakitkan. Dia ga boleh merasakan kesedihan, apalagi menangis. Niatnya mau bikin si Joker jadi anak yang kuat, tapi itu justru malah mengganggu kestabilan emosinya.

        Di sini peran keaslian atau authenticity menjadi sangat penting. Bahwasanya untuk mengontrol emosi caranya bukan dengan menghindari atau ga mengakuinya, tetapi mengenali dan menghadapinya dengan penyikapan yang tepat.

        Selain itu, buku ini menolak tegas pujian-pujian yang kosong, termasuk memuji masalah kecerdasan anak. Di buku ini akan dijelaskan bagaimana seharusnya kita sebagai orang tua memuji sang anak tanpa menimbulkan efek samping yang berpengaruh di masa-masa berikutnya.

  • Reframing (Memaknai Ulang)

       Jika suatu hari cuaca sedang hujan, sedangkan kita harus berangkat kerja, apa yang ada di pikiran Sahabat PKK pada saat itu? Apakah mengutuknya, atau kita bisa berpikir, “Alhamdulillah, kalo hujan gini ga perlu nyiramin tanaman lagi deh”.

        Inilah kunci dari prinsip reframing (memaknai ulang). Dalam  hal apapun yang terjadi, semuanya ga dilihat dari kacamata hitam dan putih, tetapi abu-abu. Kita bisa memahami bahwa hujan bukanlah cuaca yang ‘buruk’ karena semua tergantung bagaimana persepsi kita terhadapnya. Dalam satu peristiwa atau fenomena, ada hal yang buruk dan ada yang baik. Sehingga dengan ini harapannya kita sebagai orang tua (atau lebih tepatnya manusia) ga mudah men-judge segala sesuatu. Penulis membahasakannya sebagai optimisme realistis.

Reframing_The Danish Way of Parenting
Sumber gambar : NeONBRAND di Unsplash

       Sama seperti anak-anak. Dalam satu waktu, mereka bisa aja sangat rewel hingga buat kita frustasi, tapi di waktu lain mereka bisa begitu manis, sampai suka menawarkan bantuan saat masak di dapur, misal. Hal ini kalau diamati dengan baik akan membuat kita ga mudah menilai, oh anak ini egois dan akan selalu egois. Dia susah fokus, kayaknya dia kena ADHD deh. Ini nih yang perlu kita hindari.

        Reflek yang perlu dibangun kemudian adalah ga mudah melabeli sang anak, tetapi mengenali penyebab dari setiap perilaku yang muncul. Sesuatu yang wajar kalo terkadang seseorang mengalami hari yang buruk, sehingga mempengaruhi bagaimana dia bersikap.

       Melatih keterampilan reframing pada anak sangat penting untuk kelangsungan hidupnya. Salah satunya untuk melatih ketahanan mereka saat mengalami masalah. Dalam sesuatu hal yang terjadi, mereka ga akan mudah jatuh dalam kesedihan karena fokus pada hal-hal yang buruk, begitupun sebaliknya sehingga senantiasa waspada.

  • Emphaty (Empati)

Empati bukanlah kemewahan untuk umat manusia, melainkan keharusan. Kita bertahan bukan karena kita mempunyai cakar dan bukan karena kita mempunyai taring yang besar. Kita bertahan karena kita bisa berkomunikasi dan berkolaborasi.” -Daniel Siegel, profesor psikologi klinis di ULCA.

       Ungkapan di atas bisa menjadi pembuka saat kita memahami lebih dalam dari kata ‘empati’. Jika ada orang yang mengatakan bahwa hidup itu adalah tentang menjadi yang terkuat, hanya yang kuat yang bisa bertahan hidup, menurut saya kurang tepat. Karena singa jantan saja, yang seringkali jadi simbol kekuatan, masih membutuhkan singa betina untuk berburu. Mereka berbagi tugas agar bisa bertahan hidup, sembari berperan dalam keseimbangan ekosistem di bumi. Para singa pun ga hidup sendiri, melainkan berkelompok.

Emphaty_The Danish Way of Parenting
Sumber gambar : Anna Kolosyuk di Unsplash

       Untuk itulah pelajaran tentang empati menjadi hal yang cukup krusial bagi sang anak. Setiap dari kita memiliki apa yang ga dimiliki orang lain, begitupun sebaliknya. Anak-anak (dan kita) kemudian bisa memahami bahwa bekerjasama bukanlah suatu hal yang lemah, tetapi justru menguatkan. Kita ga akan lagi melihat orang lain sebagai musuh, tapi sebagai teman selama perjalanan kehidupan. Kemampuan kolaborasi anak akan senantiasa terasah berkat empati yang dibangun semenjak kecil. Manfaat-manfaat dan teknis membangun empati akan dibahas lebih mendetail di buku ini.

  • No Ultimatum

       Di beberapa negara, cara mendisiplinkan anak gak lepas dari hukuman secara verbal, bahkan fisik. Anak-anak diperolok-olok di depan umum, dengan harapan mereka jera saat berlaku nakal atau buruk. Tapi hal itu malah buat mereka gak menghargai kita sebagai orang tua, melainkan penuh ketakutan terhadap kita.  Bagaimana bisa mereka respek terhadap kita jika mereka merasa ga dihargai dan dipahami?

No Ultimatum_The Danish Way of Parenting
Sumber gambar : https://www.psychiatryadvisor.com/

       Kita tentu ga pingin anak kita suatu hari membawa bom waktu, karena ia terlalu tertutup dengan kita. Selalu takut untuk dimarahi, saat mengalami masalah mereka berusaha memutuskan dan menyelesaikan masalah sendiri, padahal mereka masih perlu dibimbing. Tahu-tahu, misal, hamil di luar nikah, apa yang bisa kita perbuat setelah itu selain menyesal?

       Menurut penulis, orang-orang Denmark menolak cara pengasuhan yang demikian. Mereka lebih condong menghidupkan demokrasi dalam keluarga, sehingga sang anak ga takut meminta saran dan tetap percaya diri untuk mengambil keputusan secara mandiri dan tepat. Sebagai orang tua,  mereka hanya membimbing, ga memaksakan kehendak. Apakah sahabat PKK sudah menerapkannya?

  • Togetherness (Kebersamaan)

       Di dunia yang cukup bergantung besar dengan gadget, kebersamaan bisa menjadi tantangan tersendiri. Saat makan bareng di rumah, terkadang kita akan sibuk dengan HP masing-masing. Kebiasaan ini bisa terbawa ke anak-anak, sehingga bisa semakin mengurangi waktu interaksi antar anggota keluarga.

       Jikapun ga sibuk main HP, terkadang perkumpulan keluarga bisa menimbulkan efek buruk, bila ada yang menghabiskan waktunya hanya untuk bergosip, membawa konflik lama, atau saling mengeluh. Sedangkan anak mudah meniru orang-orang di sekitarnya,  termasuk orang tuanya sendiri.

Tigetherness_The Danish Way of Parenting
Sumber gambar : Jude Beck di Unsplash

        Bagi orang-orang Denmark, kebersamaan sangatlah penting. Saat ada waktu luang, mereka suka melakukan apapun bersama-sama. Ini yang cukup bikin saya takjub sih, karena di keluarga saya belum sampe sebegitunya. Seperti masak, bersih-bersih, hingga makan bersama. Saat ada perkumpulan keluarga besar, ga ada yang namanya satu hanya duduk lalu yang lain repot memasak. Mereka bekerja bersama untuk menjadikan acaranya menyenangkan. Wah, apa keluarga sahabat PKK sudah sampai begitu? Jadi bahan evaluasi juga buat saya (hehe).

        Buku ini menjelaskan dengan gamblang pentingnya kebersamaan dalam keluarga, istilah lainnya bernama hygge. Dengan hygge, sang anak mendapat dukungan yang kuat dari orang-orang sekitar, utamanya keluarga. Sehingga ia dapat mempengaruhi kebahagiaan anak selama tumbuh kembangnya.

Kesimpulan

       Itu dia cuplikan isi dari buku yang cukup keren ini. Ia bisa disejajarkan dengan buku-buku parenting lain yang ga kalah bagus untuk melengkapi referensi pengasuhan anak yang ciamik. Untuk orang-orang yang sauvinis (kbbi : orang yg mencintai tanah air dan bangsa secara berlebihan), mungkin akan skeptis duluan ketika baca judul buku ini. Tapi jika niatnya adalah mendapatkan kacamata baru, mencari contoh dari negara-negara yang telah terlebih dulu mencapai kemajuan salah satunya di bidang pengasuhan anak, buku ini patut dibaca. Ga hanya orang Denmark aja yang bisa menerapkan konsep ini, semua negara lain juga seharusnya bisa, termasuk kita Indonesia.

       Selain itu, bagi saya, buku ini secara langsung juga bisa menjadi self-help buat diri saya – dan harapannya sahabat PKK juga-, karena ia mengajarkan beberapa hal yang membuat kita lebih bahagia dengan kehidupan yang dijalani saat ini. Misalnya tentang reframing dan optimisme realistis-nya.  

      Yah, bisa jadi susah untuk diterapkan sih. Tapi jika dimulai sejak sekarang, nggak ada ruginya. Mau yang belum atau sudah punya anak, semua masih bisa memulai. Demi generasi penerus kita yang nanti bisa menebar manfaat sebesar-besarnya ga hanya pada keluarga, tapi juga masyarakat. Dan demi diri kita yang sedang mengupayakan hidup lebih bermakna. Salam keluarga cerdas dan sehat!

Rating Buku :
4.5/5