Teruntuk Ibu Bekerja, 5 Strategi Membangun Intimasi dan Kelekatan dengan Buah Hati

Teruntuk Ibu Bekerja, 5 Strategi Membangun Intimasi dan Kelekatan dengan Buah Hati

Membangun Intimasi

       Lahir dan dibesarkan dari ibu bekerja. Tinggal di sekitar lingkungan dimana para wanita meniti karier atau pekerjaannya dengan produktif. Jadilah saya melakukan riset psikologi untuk menjawab pertanyaan sederhana namun powerful ini, kira-kira begini: bagaimana sih cara yang digunakan para ibu hingga berhasil membangun intimasi dengan anak di tengah kesibukannya bekerja. Sahabat PKK, tahukah Anda bila dari hasil survey Badan Pusat Statistik setiap tahunnya mencatat adanya peningkatan pekerja perempuan. Di tahun 2016 saja, ditemukan jika sebanyak 46% tenaga profesional, managerial, dan teknisi adalah perempuan. Di dunia politik sendiri, wajah perempuan juga semakin familiar. Sebanyak 17,32% legislator merupakan perempuan.

       Lha, memangnya penting membangun intimasi dengan anak? Pertama-tama mari kita kenali apa itu intimasi. Menyadur dari KBBI, intimasi erat kaitannya dengan keakraban. Sedangkan dalam konsep psikologisnya -menurut Erikson seorang psikolog perkembangan- intimasi berarti kemampuan untuk dekat dengan orang lain. Lebih lanjut Brian Strong & DeVault yang juga psikolog, menggambarkan intimasi sebagai perasaan hangat, dekat, dan terikat yang didapatkan ketika individu mencintai seseorang.

       Bisa bayangkan bagaimana perasaan intimasi yang muncul antara ibu dan anak? Waaah, sepertinya menyenangkan ya. Dari sisi fisiologis munculnya intimasi juga berkaitan erat dengan hormon oksitosin. Sebuah hormon yang dikenali sebagai hormon cinta. Hormon inilah yang telah banyak membantu ibu hamil saat melahirkan dan meningkatkan produksi air susu ibu (ASI). Sebelum memahami cara membangun intimasi, mari terlebih dahulu berkenalan dengan kelekatan. Sebab akan sulit membangun intimasi bila kita belum memahami bagaimana gambaran kelekatan diri kita sendiri (ataupun anak-anak), khususnya dalam pembahasan kali ini yang saya maksudkan sebagai ibu yang bekerja atau teruntuk sahabat PKK yang berencana untuk meniti jalur yang sama menjadi ibu bekerja.

Mengenal Kelekatan

Kelekatan sebetulnya merupakan perilaku yang muncul secara alamiah atau bawaan. Fungsinya untuk memaksimalkan kemampuan bertahan hidup. Misalnya saja seorang bayi yang secara alamiah akan mendekati figur lekatnya saat berada dalam keadaan sulit, takut, atau menekan. Figur lekat ini ialah orang terdekat anak, termasuk ibu salah satunya. Saat bayi perilaku kelekatan diwujudkan dalam bentuk menangis dan memandang erat-erat. Seiring anak bertumbuh, perilaku kelekatannya berubah dan seringkali diwujudkan melalui komunikasi verbal.

Secara psikologis, pengalaman kelekatan akan menciptakan “internal working models” yang artinya, pengalaman awal kelekatan akan disimpan sebagai pengetahuan yang akan menentukan bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungannya di masa mendatang. Mulanya ada dua tipikal perilaku kelekatan yang muncul saat anak berpisah dengan figur lekatnya dan berada dalam situasi lingkungan yang menekan, yaitu aman dan tidak aman. Bila anak memperoleh pengalaman kelekatan yang aman, hangat, dan percaya pada figur lekatnya, maka kelak akan lebih mudah bagi anak dalam membangun relasi sosial yang juga terasa aman dan hangat.

  • Kelekatan Aman

       Profesor psikologi David Howe, menemukan jika figur lekat yang mampu memberikan kepedulian secara responsif dan konsisten dapat membantu anak dalam mengenali dan meregulasi emosinya. Selain itu anak juga akan mengembangkan kompetensi sosial, empati, kecerdasan emosi dan mengenali bagaimana mereka mampu berhubungan dengan orang lain.  Respon positif dan kepekaan yang dimiliki oleh figur lekat juga mampu membuat anak mengembangkan perasaan dicintai dan mencintai. Hal inilah yang akan menjadi pijakan bagi anak untuk dapat mempercayai dan meminta bantuan orang lain saat ia menghadapi masalah di masa mendatang. Tak hanya itu, ternyata anak juga memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi pengalaman traumatis.

  • Kelekatan Tidak Aman

       Selain kelekatan aman, sayangnya seorang anak juga bisa mengembangkan perilaku kelekatan tidak aman. Hal ini dicirikan saat anak cenderung tidak meyakini dan menolak bahwa figur lekatnya mampu memenuhi kebutuhan emosionalnya. Nah, hal ini kerap kali disebabkan karena figur lekat anak memberi respon yang kurang hangat terhadap kebutuhan anak atau saat anak sering memperoleh perlakuan yang tidak menyenangkan seperti pelabelan dan pemberian konsep diri yang kurang baik.

       Kelekatan tidak aman terbentuk dalam perilaku kelekatan menghindar, ambivalen dan kombinasi antara keduanya. Menghindar ini maksudnya dapat serupa: menghindari kedekatan emosi, tidak menampakkan perasaan butuh, menahan emosi, dan berperilaku sesuai dengan keinginan figur lekat sekedar supaya tidak dimarahi. Sedangkan ambivalen berwujud manakala anak berusaha mendapat perhatian dengan cara yang kurang berkenan seperti mengancam dan marah karena figur lekat yang tidak memberikan kenyamanan. Terakhir dalam kelekatan tidak aman kombinasi dari kelekatan menghindar dan ambivalen, biasanya anak berusaha mendapatkan perhatian figur lekat namun kemudian menolak sebelum mendapat perhatian. Anak juga mungkin melekat dan menangis namun sekaligus tidak memiliki kepedulian pada figur lekatnya.

       Hasil Penelitian National Collaborating Center for Mental Health di tahun 2015 lalu mendapati bila seiring dengan berkembangnya pemahaman tentang hubungan antara perkembangan otak dan gangguan psikolologis di masa anak-anak ternyata semakin jelas pula bagaimana peran kelekatan secara signifikan melebihi tujuan untuk sekedar upaya bertahan hidup. Hal ini karena kesehatan psikologis dan emosi yang baik membutuhkan pengalaman lingkungan yang menyediakan hubungan hangat dan konsisten dalam kelekatan. Terlebih bagi anak-anak yang memang masih banyak bergantung pada lingkungan sekitarnya.

Nah, sahabat PKK sebagai ibu ataupun calon ibu tentunya kita ingin membantu anak membangun kelekatan yang aman. Dengan adanya kelekatan aman barulah intimasi akan mudah terjalin dan bisa menjadi bekal proses pengasuhan yang optimal. Sekarang mari kita resapi beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk menumbuhkan intimasi berbekal dari adanya kelekatan yang aman!

1. Penerimaan diri (bagaimanapun kondisi kita sekarang)

       Sebelum berkeinginan untuk menjadi sosok ibu terbaik bagi buah hati, yuk tengok dan perhatikan diri sendiri dulu. Diri kita ialah paket lengkap yang memiliki lebih dan kurang. Alamiahnya lebih sulit bagi kita untuk menerima kekurangan. Pikiran kita juga lebih mudah memikirkan hal-hal yang negatif dibanding positif. Namun percayalah, kita akan tetap baik-baik saja meski memiliki celah kekurangan. Sebab kekurangan lah kita tidak berhenti belajar menjadi orangtua. Dengan mengingat hal itu, maka refleks kita juga akan mudah menerima bagaimanapun kondisi anak.

       Faktanya, anak-anak terlahir dengan keunikan dan kebutuhannya masing-masing. Maka sejatinya, setiap orangtua itu spesial, lho. Perasaan baik-baik saja dalam kondisi lebih maupun kurang akan membuat kita lebih membumi dan mudah memupuk cinta tanpa syarat kepada buah hati. Selain itu kita juga akan mudah belajar mengelola ekspektasi atau hal apapun yang terjadi diluar kewenangan diri kita. Entah itu ekspektasi terhadap pasangan, pekerjaan, atau khususnya pada anak.

       Nah sejenak mari tengok kedalam bagaimana pengalaman kelekatan yang kita miliki dengan orangtua diwaktu kecil hingga menjadi template yang kita miliki hari ini. Bilamana dahulu kita dibesarkan dengan kelekatan yang tidak aman, maka bukan berarti kita pasrah dan menyalahkan orangtua. Meskipun bisa saja terasa tidak adil, namun perlu disadari bahwa ada banyak sebab yang melatarbelakangi kondisi tersebut. Entah karena keterbatasan pengetahuan orangtua kita dahulu atau kakek, nenek, bahkan buyut pun mengondisikan orangtua kita dengan kelekatan tidak aman. Sekarang memasuki fase dewasa, pilihan ada di tangan kita, dan inilah saatnya memutus mata rantai tersebut.

2. Manajemen Waktu yang Berkualitas

       Hampir sepertiga waktu dalam sehari digunakan untuk bekerja, tentu bukan waktu yang singkat. Tanpa adanya perencanaan, waktu bisa saja terasa berjalan cepat. Tau-tau buah hati yang masih lucu dan menggemaskan bertumbuh menjadi remaja yang mulai perhatian dengan penampilan dan mengenal lawan jenis. Wah wah.. sangat disayangkan ya, bila tanggungjawab sebagai ibu hanya mampir lewat begitu saja.

       Bagi sebagian orang, apabila peran menjadi orangtua dimaknai betul, ternyata efektif untuk merubah diri lho. Seorang ayah pernah bercerita pada penulis. Sewaktu muda, ia ketergantungan kopi dan rokok. Namun semenjak menjalankan peran barunya sebagai ayah, ia mengaku jika kebiasaan tersebut dengan mudah ia ubah. Alasannya ia tak sampai hati melihat si anak meniup asap rokok. Lebih-lebih ia khawatir bila penyakit kemudian datang. Bukannya hidup sehat, alih-alih justru menderita.

       Diluar waktu bekerja, cobalah mengatur waktu yang berkualitas bersama keluarga, khususnya anak. Faktanya kebersamaan yang intens tidak menjamin adanya ikatan emosi yang kuat. Anak hanya akan mengingat momen-momen berkesan bersama kedua orangtua. Momen-momen ini juga tidak harus mensyaratkan biaya kok, meskipun berlibur ke luar kota juga asyik. Namun ada pula momen-momen sederhana yang gratis dan bisa dinikmati bersama, seperti: memasak menu favorit anak dengan memanfaatkan bahan makanan di lemari pendingin atau berolahraga bersama di dekat rumah.

       Misalnya jika anak suka layang-layang, tak ada salahnya lho bila ayah ikut bermain dan ibu menemani. Nah momen-momen manis seperti ini juga bisa di abadikan. Kelak saat anak beranjak dewasa, ia akan dengan mudah mengingat betapa cinta kedua orangtuanya telah hadir dan menjelma menjadikan ia sosok yang hangat dan peduli. Itu dapat menjadi pertanda bila anak memiliki kelekatan yang aman.

3. Pengasuhan Dialogis dan Terbuka

       Luangkan waktu untuk menjalin komunikasi yang dialogis dengan anak saat ia mulai aktif berbicara. Dr. Wiwin Hendriani pakar dibidang psikologi keluarga menuturkan jika melalui dialog yang baik, anak akan merasa didengar dan dihargai pendapatnya. Jadi meskipun ibu tidak selalu menemani, namun anak memiliki persepsi yang positif tentang ibunya. Adapun berbagai persoalan yang bisa saja muncul maupun dalam interaksi antara anak dan ibu nantinya akan lebih mudah diselesaikan dan tidak berefek negatif pada perkembangan psikologis anak.

       Percakapan yang baik juga dapat menjadi media stimulasi dan proses belajar yang efektif, lho. Dr. Wiwin mencontohkan, ada sekian banyak anak yang memiliki sarana belajar memadai di rumah namun ternyata tidak menunjukkan hasil belajar yang sejalan. Sebaliknya, ada anak-anak dengan perlengkapan belajar dan bermain yang seadanya namun justru menunjukkan perkembangan belajar yang baik.

       Usut punya usut, ternyata memang karena orangtua mereka berbeda keaktifan dalam mengupayakan stimulasi yang lebih dengan menggunakan sarana belajar. Ternyata, isi dan proses percakapan lebih berkontribusi besar terhadap hasil belajar, jadi bukan semata-mata soal kelengkapan fasilitasnya. Dengan kebiasaan dialog ini, berbagai persoalan yang muncul juga dapat diselesaikan dengan lebih efektif. Tak ada kekhawatiran bagi anak untuk dapat bercerita meski Anda juga sibuk bekerja.

4. Fasilitasi Bakat dan Minat Anak

       Dalam penelitian Psikolog Perkembangan, Bosmans & Kerns di tahun 2015 tentang kelekatan pada anak-anak usia sekolah dasar, salah satu gambaran kelekatan yang aman ditandai dengan kemampuan anak dalam mengeksplorasi dunianya. Nah salah satu cara efektif yang bisa diterapkan agar anak bebas bereksplorasi adalah dengan membantu anak mengenali dan memfasilitasi bakat dan minatnya.

       Psikolog keberbakatan Christian Fischer menyebutkan, ada banyak potensi keberbakatan yang mungkin dimiliki anak, seperti: bakat dalam bidang verbal, numerik, spasial, musikal-artistik, psikomotor, dan sosioemosional. Potensi bakat ini dapat diaktualisasikan kedalam bentuk performansi dengan ditunjang oleh kepribadian seperti motivasi berprestasi dan dukungan lingkungan sekitar anak seperti sekolah dan teman sebaya.

      Setelah mengetahui bakat anak, penting juga bagi anak untuk mengenali minatnya. Apakah ia memiliki minat yang memadai dan sejalan dengan potensi bakatnya atau ternyata ia memiliki minat yang luas.  Anda dapat mendukung anak untuk mencoba berbagai ekstrakurikuler sekolah sesuai keinginannya. Bila diperlukan, kegiatan serupa aktifitas ekstrakurikuler tersebut juga dapat dilakukan diluar sekolah, seperti mengikuti les tambahan atau bergabung dengan komunitas.

       Mengenali bakat dan minat anak sejak dini juga berfungsi sebagai sarana anak untuk mengenali dirinya. Saat anak mampu mengenali hingga mengaktualkan potensi terbaiknya, bukan hal yang mustahil bila ia mampu menorehkan beragam prestasi sejak dini bukan berdasarkan tuntutan namun karena dorongan dari dalam diri. Misalnya saat anak memiliki bakat dan minat psikomotorik seperti bermain sepak bola.

       Selain bisa bereksplorasi dan menikmati aktifitas tersebut, seiring waktu anak akan merasakan adanya progres positif dari perkembangan kemampuan bermainnya. Berbekal keaktifan itu, alamiahnya berbagai skill hidup lain juga turut menyertai perkembangan anak. Ia juga akan belajar bekerja sama, berkomunikasi, atau bertemu dengan ragam karakter orang hingga dapat mengasah kemampuannya berempati menyikapi perbedaan. Jadi dukungan ibu bagi anak untuk aktif berkesplorasi sungguh berarti. Yuk, kita upayakan agar anak bisa mengenalinya sejak dini!

5. Antisipasi Perpisahan Tiba-tiba

       Salah satu momen khusus yang wajib Anda perhatikan adalah saat anak memasuki lingkungan baru di luar keluarganya, seperti misalnya saat anak masuk sekolah untuk pertama kali. Seringnya anak ingin ditemani di waktu awal-awal masuk sekolah. Nah untuk mengantisipasi tantrum seperti marah, menangis meraung-meraung karena tak ingin pergi ditinggal ‘sendiri’, ada baiknya bila momen masuk sekolah diperkenalkan kepada anak jauh-jauh hari.

       Ibu bisa lho menceritakan bagaimana sih bersekolah itu. Menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan ibu bapak guru dan bermain bersama teman-teman yang baru. Bila diperlukan, apabila Anda mendeteksi adanya potensi stres berkelanjutan yang mungkin dialami anak menilik karakter uniknya, tak ada salahnya untuk mengagendakan waktu cuti khusus untuk mendampingi anak beradaptasi. Sebab bila situasi baru ini tidak dapat dilalui anak dengan baik, dampaknya dapat cukup traumatis dan membuatnya mudah merasa cemas.

       Mogok sekolah bukan perkara yang jarang terjadi. Bila tidak segera diatasi anak dapat mengembangkan kelekatan tidak aman pada Anda lho. Sebab kembali lagi, sebagai individu yang masih bergantung, Anda-lah dunianya.

       Ibu, jadikanlah diri Anda sebagai tempat kembali yang aman, nyaman, dan hangat untuk Anda sendiri hingga Anda mampu memberikan hal yang serupa untuk buah hati. Terima dan peluklah segala kelebihan dan kekurangan Anda sebagai ibu. Berbekal itulah intimasi akan mudah dibangun. Semoga segala kebaikan yang Anda upayakan untuk menjadi sumber kasih sayang tanpa syarat terganjar pahala kebaikan dan kembali pada Anda dalam bentuk yang lebih indah. Aaamiin..

Pustaka :

  1. Ainsworth, M., Blehar, M., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of attachment: Psychological study of the strange situation, Hillsdale, NJ: Erlbaum.

  2. Bosmans, G., & Kerns, K.A. (2015). Attachment in middle childhood: Progress and prospects. In G. Bosmans & K. A. Kerns (Eds.), Attachment in middle childhood: Theoretical advances and new directions in an emerging feld. New Directions for Child and Adolescent Development, 148, 1–14

  3. Bowlby, J. (1959). Separation Anxiety. International Journal of Psycho-Analysts, XLI, 1-25.

  4. Howe, D. (2005). Child Abuse and Neglect: Attachment, Development and Intervention. Hampshire: Palgrave Macmillan

  5. (2017). Jumlah Tenaga Kerja Perempuan di Indonesia. Diambil kembali dari http://independen.id/read/data/429/jumlah-tenaga-kerjaperempuan-di-indonesia/.

  6. National Collaborating Centre for Mental Health. (2015). Children’s Attachment: Attachmet in children and young people who are adopted from care, in care or at high risk of going into care. The British Psychoogical Society & The Royal College of Psychiatrists

  7. Strong, B., DeVault, C., & Cohen, T.,F. (2011). The marriage and family experience. (11th ed.). St. Paul, MN: West

  8. Wiwin Hendriani (2017). Appreciative Parenting: Menumbuhkan Ketangguhan Anak Melalui Percakapan yang Memberdayakan. Diambil kembali dari https://wiwinhendriani.com/2017/03/06/appreciative-parenting-menumbuhkan-ketangguhan-anak-melalui-percakapan-yang-memberdayakan/